Galery Mubarok

Galery Mubarok

Minggu, 28 September 2014

PLANNING AUDIT

BAB III
PERNCANAAN AUDIT
1. Penerimaan Penugasan Audit
Tahap awal adalah mengambil keputusan untuk menerima atau menolak kesempatan untuk menjadi auditor klien baru atau melanjutkan sebagai audior untuk klien yang sudah ada.
2. Perencanaan Audit
Merupakan tahap cukup sulit dan menentukan keberhasilan penugasan audit. Perencanaan ini biasanya dilakukan antara tiga hingga enam bulan sebelum akhir tahun buku klien.
3. Pelaksanaan Pengujian Audit
Tahap ini sering disebut sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan bukti audit efektivitas struktur pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangannya. Pengujian ini dilakukan antara tiga sampai empat bulan sebelum akhir tahun buku klien.
4. Pelaporan Temuan
Merupakan tahap terakhir dari suatu audit.

PENERIMAAN PENUGASAN
Apabila auditor memutuskan untuk menerima suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab professional terhadap masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan public yang lain.
Langkah-langkah dalam Penerimaan Penugasan Audit :
1. Mengevaluasi integritas manajemen
a. Komunikasi dengan Auditor Pendahulu
Sebelum menerima penugasan, PSA No. 16, Komunikasi Antara Auditor Pendahulu dengan Auditor Pengganti (SA 315.02), mengharuskan auditor pengganti untuk mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan auditor pendahulu, baik secara lisan maupun tertulis.
b. Mengajukan Pertanyaan pada Pihak Ketiga
Informasi tentang integritas manajemen dapat diperoleh dari orang-orang yang mengenal klien, seperti penasehat hukum klien, bankir, dan pihak–pihak lain dalam lingkungan bisnis dan keuangan yang memiliki hubungan bisnis dengan calon klien.
c. Mereview Pengalaman Masa Lalu dengan Klien
Auditor harus mempertimbangkan secara cermat pengalaman berhubungan kerja dengan manajemen klien di waktu yang lalu, seperti auditor harus mempertimbangkan semua kekeliruan dan ketidak beresan material, serta tindakan melawan hukum yang ditemukan dalam audit yang lalu.
2. Mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan resiko tidak biasa
a. Mengidentifikasi Pemakai Laporan Keuangan Auditan
Auditor harus mempertimbangkan apakah laporan audit yang biasa akan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua pemakaian laporan atau apakah perlu dibuat laporan khusus.
b. Memperkirakan Adanya Persoalan Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien
Auditor harus berusaha untuk mengidentifikasi dan menolak calon klien yang memiliki resiko tinggi terkena gugatan hokum, seperti : investigasi aparat pemerintah mengenai hasil produksi, dan ketidakstabilan keuangan.
c. Mengevaluasi Auditabilitas Perusahaan Klien
Auditor harus mengevaluasi apakah terdapat kondisi- kondisi lain yang menimbulkan pertanyaan mengenai auditabilitas klien.      
3. Menetapkan kompetensi untuk melekukan audit
Standar umum yang pertama dalam standar auditing menyatakan bahwa :
“Audit harus dilaksankan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor”.
a. Penetapan Tim Audit
Tujuan elemen pengendalian mutu ini adalah untuk melihat bahwa tingkat keahlian teknis dan pengalaman tim audit akan dapat memenuhi keburuhan untuk menangani penugasan secara profesional. Tim audit pada umumnya terdiri dari :
• Seorang partner yang bertanggung jawab penuh dan merupakan penanggung jawab akhir dari suatu penugasan.
• Seorang manajer atau lebih yang mengkoordinasi dan melakukan supervisi pelaksanaan program audit.
• Seorang senior atau lebih yang bertanggung jawab atas sebagian program audit dan melakukan supervisi serta mereview pekerjaan staf asisten.
• Staf asisten yang mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlukan.
b. Mempertimbangkan Kebutuhan Konsultasi dan Penggunaan Spesialis
Auditor perlu mempertimbangkan kemungkinan penggunaan konsultasi dan spesialis untuk membantu tim audit dalam melaksanakan audit, Contoh spesialis, antara lain :
• Penilai (appraiser) untuk mendapatkan bukti tentang penilaian atas barang seni.
• Insinyur tambang untuk menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang yang ada di suatu pertambangan.
• Aktuaris untuk menentukan jumlah rupiah program pensiun yang akan digunakan dalam akuntasi.
• Penasehat hukum untuk memperkirakan hasil akhir dari suatu perkara pengadilan yang masih berjalan.
• Konsultan lingkungan untuk menentukan pengaruh undang- undang dan peraturan tentang lingkungan.
4. Mengevaluasi indepedensi
Standar auditing kedua menyatakan bahwa
”Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh audit”.
5. Menentukan kemampuan untuk bekerja dengan cermat dan seksama
Standar auditing ketiga menyatakan bahwa
”Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama”.
6. Menyiapkan surat penugasan
Langkah terakhir dalam tahap penerimaan penugasan adalah penyusunan surat penugasan. Bentuk dan isi surat penugasan berbeda-beda untuk setiap klien, namun secara umum setiap surat penugasan hendaknya berisi hal-hal:

PERENCANAAN AUDIT
Perencanaaan Audit meliputi pengembangan strategi pelaksanaan secara menyeluruh dan Lingkup Audit yang diharapkan. Dalam perencanaan Audit, Auditor harus mempertimbangkan hal – hal sebagai berikut:
·         Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat usaha entitas tersebut.
·         Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
·          Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi  pokok perusahaan
·         Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
·         Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit
·         Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan peyesuaian
·         Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliruan atau kecurangan material atau adanya transaksi antar pihak – pihak yang mempunyai hubungan istimewa
·         Sifat laporan Auditor yang diharapkan akan diserahkan
Ada tiga alasan utama mengapa auditor harus merencanakan tugasnya dengan sebaik – baiknya, yakni sebagai berikut :
ü  Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup dalam situasi saat itu
ü  Untuk membantu menekan biaya audit
ü  Untuk menghindari salah pengertian dengan klien

MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS PENDAHULUAN
Tujuan pelaksanaan  prosedur analisis :
ü  Memahami bidang usaha klien
ü  Penetapan kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya
ü  Indikasi adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
ü  Mengurangu pengujian audit yang terinci
A.     Menentukan materialistis dan risiko
Materialistis dan risiko Adalah unsure penting dalam merencanakan audit dan merancang pendekatan yang akan digunakan.
Materialistas adalah jumlah atau besarnya kekeliruan atau salah saji dalam informasi akuntansi.
Langkah-langkah dalam penetapan materialistas Adalah sebagai berikut :
Langkah 1 : menetukan pertimbangan awal mengenai materialistas
Langkah 2 : mengalokasikan pertimbangan awal mengenai materialistas
Langkah 3 : mengestimasikan total salah saji dalam segmen
Langkah 4 : mengestimasikan salah saji gabungan
Langkah 5 : membandingkan estimasi salah saji gabungan dengan pertimbangan awal mengenai meterialistas.
B.      Memahami struktur pengendalian interen
Luasnya pemahaman tersebut ,paling tidak,mencukupi untuk merencanakan audit yang memadai,dalam hal empat masalah spesifik perencanaan,yakni sebagai berikut :
  1. Auditability
Auditor harus mendapatkan informasi yang cukup memusakan mengenai integritas manajemen dan sifat serta lus catatan akuntansi,sehingga bahan bukti kompeten tersedia untuk mendukung saldo laporan keuangan.
  1. Potensi salah saji yang material
Pemahaman seharusnya memungkinkan auditor untuk mengenditifikasi jenis-jenis kekeliruan dan ketidakberesan yang potensial yang dapat mempengaruhi laporan keuangan,dan menetapkan risiko akibat kekeliruan dan ketidakberesan yang terjadi dalam jumlah yang material terhadap laporan keuangan.
  1. Risiko penemuan
Informasi mengenai struktur pengendalian intern dugunakan untuk menetapkan risiko pengendalian bagi setiap tujuan pengendalian,yang selanjutnya mempengaruhi risiko penemuan yang direncanakan.
  1. Perancangan pengujian
Informasi yang diperoleh seharusnya memungkinkan auditor untuk merancang pengujian saldo laporan keuangan yang efektif. Pengujian tersebut mencakup baik pengujian terinci atas transaksi maupun atas saldo,prosedur analisis dan yang disebut sebagai pengujian subtantif.
C.    Mengembangkan rencana dan program audit menyeluruh
Rencana audit dan program audit berkaitan dengan jenis-jenis pengujian audit yang dilakukan,yaitu prosedur untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern,pengujian atas pengendalian,pengujian substantive atas transaksi,prosedur analisis dan pengujian terinci atas saldo.
D.    Prosedur analisis
Prosedur analisis merupakan evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan yang lainnya,atai antara data keuangan dengan non keuangan.
Prosedur analisis antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :
o       Membandingkan informasi keuangan tahun berjalan dengan :
  • Tahun-tahun sebelumnya
  • Perusahaan lain di industry yang sama atau rata-rata industry
  • Anggaran dan prakiraan
  • Estimasi prediktif auditor
o       Analisis mengenai hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan yang diharapkan bersesuian dengan pola yang terprediksi
o       Membandingkan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
o       Membandingkan dari cabang yang satu dengan yang lainnya,atau antara lokasi yang satu dengan yang lainnya.
Beberapa hal yang harus dinyatakan dari hasil pelaksanaan prosedur analisis,antara lain sebagai berikut :
ü    Pemahaman tentang bidang usaha dan industry klien
ü    Karakteristik keuangan dari industry yang bersangkutan
ü    Penetapan kemampuan klien untuk mempertahankan kelangsungan usahanya
ü    Penekanan audit  karena adanya indikasi kekeliruan dalam laporan keuangan


Tujuan prosedur analisis pada tahap penyelesaian audit Adalah untuk menunjukkan kemungkinan adanya salah saji/kekeliruan (arahan perhatian) dan menilai kelangsungan hidup usaha.

Tidak ada komentar: