BAB III
PERNCANAAN AUDIT
1. Penerimaan Penugasan Audit
Tahap awal adalah mengambil keputusan untuk menerima
atau menolak kesempatan untuk menjadi auditor klien baru atau melanjutkan
sebagai audior untuk klien yang sudah ada.
2. Perencanaan Audit
Merupakan tahap cukup sulit dan menentukan
keberhasilan penugasan audit. Perencanaan ini biasanya dilakukan antara tiga
hingga enam bulan sebelum akhir tahun buku klien.
3. Pelaksanaan Pengujian Audit
Tahap ini sering disebut sebagai pelaksanaan pekerjaan
lapangan. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan bukti audit efektivitas
struktur pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangannya. Pengujian
ini dilakukan antara tiga sampai empat bulan sebelum akhir tahun buku klien.
4. Pelaporan Temuan
Merupakan tahap terakhir dari suatu audit.
PENERIMAAN PENUGASAN
Apabila auditor memutuskan
untuk menerima suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab
professional terhadap masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan
public yang lain.
Langkah-langkah dalam Penerimaan Penugasan Audit :
1. Mengevaluasi integritas manajemen
a. Komunikasi dengan Auditor
Pendahulu
Sebelum menerima penugasan,
PSA No. 16, Komunikasi Antara Auditor Pendahulu dengan Auditor Pengganti (SA
315.02), mengharuskan auditor pengganti untuk mengambil inisiatif untuk
berkomunikasi dengan auditor pendahulu, baik secara lisan maupun tertulis.
b. Mengajukan Pertanyaan
pada Pihak Ketiga
Informasi tentang integritas manajemen dapat diperoleh
dari orang-orang yang mengenal klien, seperti penasehat hukum klien, bankir,
dan pihak–pihak lain dalam lingkungan bisnis dan keuangan yang memiliki
hubungan bisnis dengan calon klien.
c. Mereview Pengalaman Masa
Lalu dengan Klien
Auditor harus
mempertimbangkan secara cermat pengalaman berhubungan kerja dengan manajemen
klien di waktu yang lalu, seperti auditor harus mempertimbangkan semua
kekeliruan dan ketidak beresan material, serta tindakan melawan hukum yang
ditemukan dalam audit yang lalu.
2. Mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan resiko tidak
biasa
a. Mengidentifikasi Pemakai
Laporan Keuangan Auditan
Auditor harus
mempertimbangkan apakah laporan audit yang biasa akan cukup untuk memenuhi
kebutuhan semua pemakaian laporan atau apakah perlu dibuat laporan khusus.
b. Memperkirakan Adanya Persoalan
Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien
Auditor harus berusaha untuk
mengidentifikasi dan menolak calon klien yang memiliki resiko tinggi terkena
gugatan hokum, seperti : investigasi aparat pemerintah mengenai hasil produksi,
dan ketidakstabilan keuangan.
c. Mengevaluasi
Auditabilitas Perusahaan Klien
Auditor harus mengevaluasi
apakah terdapat kondisi- kondisi lain yang menimbulkan pertanyaan mengenai
auditabilitas klien.
3. Menetapkan kompetensi untuk melekukan audit
Standar umum yang pertama
dalam standar auditing menyatakan bahwa :
“Audit harus
dilaksankan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis
cukup sebagai auditor”.
a. Penetapan Tim Audit
Tujuan elemen pengendalian
mutu ini adalah untuk melihat bahwa tingkat keahlian teknis dan pengalaman tim
audit akan dapat memenuhi keburuhan untuk menangani penugasan secara
profesional. Tim audit pada umumnya terdiri dari :
• Seorang partner yang
bertanggung jawab penuh dan merupakan penanggung jawab akhir dari suatu
penugasan.
• Seorang manajer atau lebih
yang mengkoordinasi dan melakukan supervisi pelaksanaan program audit.
• Seorang senior atau lebih
yang bertanggung jawab atas sebagian program audit dan melakukan supervisi
serta mereview pekerjaan staf asisten.
• Staf asisten yang
mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlukan.
b. Mempertimbangkan
Kebutuhan Konsultasi dan Penggunaan Spesialis
Auditor perlu
mempertimbangkan kemungkinan penggunaan konsultasi dan spesialis untuk membantu
tim audit dalam melaksanakan audit, Contoh spesialis, antara lain :
• Penilai (appraiser) untuk
mendapatkan bukti tentang penilaian atas barang seni.
• Insinyur tambang untuk
menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang yang ada di suatu
pertambangan.
• Aktuaris untuk menentukan
jumlah rupiah program pensiun yang akan digunakan dalam akuntasi.
• Penasehat hukum untuk
memperkirakan hasil akhir dari suatu perkara pengadilan yang masih berjalan.
• Konsultan lingkungan untuk
menentukan pengaruh undang- undang dan peraturan tentang lingkungan.
4. Mengevaluasi indepedensi
Standar auditing kedua
menyatakan bahwa
”Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan
independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh audit”.
5. Menentukan kemampuan untuk bekerja dengan cermat
dan seksama
Standar auditing ketiga menyatakan bahwa
”Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya,
auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama”.
6. Menyiapkan surat penugasan
Langkah terakhir dalam tahap penerimaan penugasan
adalah penyusunan surat penugasan. Bentuk dan isi surat penugasan berbeda-beda
untuk setiap klien, namun secara umum setiap surat penugasan hendaknya berisi
hal-hal:
PERENCANAAN AUDIT
Perencanaaan Audit meliputi pengembangan strategi
pelaksanaan secara menyeluruh dan Lingkup Audit yang diharapkan. Dalam
perencanaan Audit, Auditor harus mempertimbangkan hal – hal sebagai berikut:
·
Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan
industri yang menjadi tempat usaha entitas tersebut.
·
Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas
tersebut.
·
Metode
yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi yang
signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah
informasi akuntansi pokok perusahaan
·
Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
·
Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas
untuk tujuan audit
·
Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan
peyesuaian
·
Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau
pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliruan atau kecurangan material
atau adanya transaksi antar pihak – pihak yang mempunyai hubungan istimewa
·
Sifat laporan Auditor yang diharapkan akan
diserahkan
Ada tiga
alasan utama mengapa auditor harus merencanakan tugasnya dengan sebaik –
baiknya, yakni sebagai berikut :
ü Untuk
memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup dalam situasi saat itu
ü Untuk
membantu menekan biaya audit
ü Untuk
menghindari salah pengertian dengan klien
MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS PENDAHULUAN
Tujuan pelaksanaan
prosedur analisis :
ü Memahami bidang usaha klien
ü Penetapan kemampuan entitas untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya
ü Indikasi adanya kemungkinan salah saji dalam laporan
keuangan
ü Mengurangu pengujian audit yang terinci
A.
Menentukan materialistis dan risiko
Materialistis dan risiko Adalah unsure penting dalam
merencanakan audit dan merancang pendekatan yang akan digunakan.
Materialistas adalah jumlah atau besarnya kekeliruan
atau salah saji dalam informasi akuntansi.
Langkah-langkah dalam penetapan materialistas Adalah
sebagai berikut :
Langkah 1 : menetukan pertimbangan awal mengenai
materialistas
Langkah 2 : mengalokasikan pertimbangan awal mengenai
materialistas
Langkah 3 : mengestimasikan total salah saji dalam
segmen
Langkah 4 : mengestimasikan salah saji gabungan
Langkah 5 : membandingkan estimasi salah saji gabungan
dengan pertimbangan awal mengenai meterialistas.
B. Memahami
struktur pengendalian interen
Luasnya pemahaman tersebut
,paling tidak,mencukupi untuk merencanakan audit yang memadai,dalam hal empat
masalah spesifik perencanaan,yakni sebagai berikut :
- Auditability
Auditor harus mendapatkan
informasi yang cukup memusakan mengenai integritas manajemen dan sifat serta
lus catatan akuntansi,sehingga bahan bukti kompeten tersedia untuk mendukung
saldo laporan keuangan.
- Potensi salah saji yang material
Pemahaman seharusnya
memungkinkan auditor untuk mengenditifikasi jenis-jenis kekeliruan dan
ketidakberesan yang potensial yang dapat mempengaruhi laporan keuangan,dan
menetapkan risiko akibat kekeliruan dan ketidakberesan yang terjadi dalam
jumlah yang material terhadap laporan keuangan.
- Risiko penemuan
Informasi mengenai struktur
pengendalian intern dugunakan untuk menetapkan risiko pengendalian bagi setiap
tujuan pengendalian,yang selanjutnya mempengaruhi risiko penemuan yang
direncanakan.
- Perancangan pengujian
Informasi yang diperoleh
seharusnya memungkinkan auditor untuk merancang pengujian saldo laporan
keuangan yang efektif. Pengujian tersebut mencakup baik pengujian terinci atas
transaksi maupun atas saldo,prosedur analisis dan yang disebut sebagai
pengujian subtantif.
C.
Mengembangkan rencana dan program audit menyeluruh
Rencana audit dan program audit berkaitan dengan
jenis-jenis pengujian audit yang dilakukan,yaitu prosedur untuk memperoleh
pemahaman atas struktur pengendalian intern,pengujian atas
pengendalian,pengujian substantive atas transaksi,prosedur analisis dan
pengujian terinci atas saldo.
D. Prosedur
analisis
Prosedur analisis merupakan evaluasi terhadap
informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal
antara data keuangan yang satu dengan data keuangan yang lainnya,atai antara
data keuangan dengan non keuangan.
Prosedur analisis antara lain mencakup hal-hal sebagai
berikut :
o
Membandingkan
informasi keuangan tahun berjalan dengan :
- Tahun-tahun sebelumnya
- Perusahaan lain di industry yang sama atau
rata-rata industry
- Anggaran dan prakiraan
- Estimasi prediktif auditor
o
Analisis mengenai
hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan yang diharapkan bersesuian
dengan pola yang terprediksi
o
Membandingkan
informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
o
Membandingkan
dari cabang yang satu dengan yang lainnya,atau antara lokasi yang satu dengan
yang lainnya.
Beberapa hal yang harus dinyatakan dari hasil
pelaksanaan prosedur analisis,antara lain sebagai berikut :
ü Pemahaman tentang bidang usaha dan industry klien
ü Karakteristik keuangan dari industry yang bersangkutan
ü Penetapan kemampuan klien untuk mempertahankan
kelangsungan usahanya
ü Penekanan audit
karena adanya indikasi kekeliruan dalam laporan keuangan
Tujuan prosedur analisis
pada tahap penyelesaian audit Adalah untuk menunjukkan kemungkinan adanya salah
saji/kekeliruan (arahan perhatian) dan menilai kelangsungan hidup usaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar